Articles

Hidup Penuh Hikmat Ilahi

Saturday, 13 Agustus 2011 | View : 6954

Berapa banyak hikmat yang kita miliki? Hikmat adalah tanda perbedaan antara orang yang sudah matang dan yang belum matang. Di dalam Amsal 4:7, penulis menganjurkan kita untuk memiliki hikmat, karena “Hikmat adalah hal yang utama.” Hikmat mengubah orang sederhana (mirip dengan anak-anak) menjadi seorang dewasa yang memiliki pertimbangan. (Lukas 2:52) Yesus bertumbuh di dalam hikmat yang membuatnya semakin dikasihi oleh Tuhan dan manusia, hikmat juga membuatnya bertumbuh kuat di dalam roh (Lukas 2:40).

Hikmat mencakup semua hal ini: bijaksana, pertimbangan tajam, wawasan, meninjau ke masa depan, penilaian yang baik, ketrampilan, pengalaman, kematangan, kemurnian, damai dan lembut, dan banyak lagi.

Kitab Amsal ditulis agar pembacanya dapat memiliki hikmat! Amsal ditulis oleh seorang raja, bagi seorang raja, untuk menghasilkan semua sikap unggul seorang raja di dalam diri pembaca. Kita semua dipanggil menjadi raja-raja. (1 Pet. 2:9, Wah. 5:10). Inilah tema besar Amsal – “Pembentukan Seorang Raja”. Saat Tuhan mengubah kita menjadi raja-raja, Dia akan mengutus kita untuk berdiri di hadapan para raja. Artinya kita akan memiliki “kuasa atas bangsa-bangsa”, bahkan di hidup ini ketika Tuhan meluncurkan beberapa dari kita untuk berdiri di hadapan para pemimpin dan penguasa, hidup kita mempengaruhi keputusan yang mereka ambil untuk lingkup kekuasaan mereka.

Apakah Hikmat Sejati ?

Hikmat adalah sebuah kemampuan, namun juga memiliki kepribadian. Mereka yang memiliki hikmat sejati di dalam hidup mereka juga memiliki sikap dan watak sebuah hikmat. (Murni, penuh damai, lembut, dll.) Di dalam Amsal, hikmat disamakan dengan seorang wanita muda yang bijak. Seringkali hikmat digambarkan dengan feminim. Amsal 9 membandingkan antara Wanita Bijak (hikmat) dengan Perempuan Asing (bodoh).

(Amsal 4:8-9) Hikmat sejati menghasilkan buah Ilahi di dalam hidup kita. Hikmat akan menghasilkan kasih karunia dan kemuliaan, promosi dan hormat. Di dalam Yakobus 3:13-18, terdapat perbedaan antara hikmat dunia dan hikmat surgawi, dan buah yang menyertai keduanya. Yakobus menulis kitab ini bagi beberapa jemaat yang masih kental dengan hikmat dunia, dan inilah alasannya mengapa ada perpecahan di antara mereka. Ada perdebatan, penipuan, pertengkaran, dan roh persaingan di antara saudara seiman.

Hikmat ilahi menghasilkan justru yang sebaliknya! Yakobus menyebutkan ada tujuh bagian dari hikmat ilahi:  

Kepribadian Hikmat Ilahi: (Kebalikan dari hikmat dunia)
  1. Murni (motivasi murni)Tidak ada roh persaingan; tidak berusaha menekan orang lain atau meninggikan diri sendiri. Hikmat dunia mendorong seseorang berambisi untuk meraih puncak, dan menghalalkan segala cara termasuk menginjak orang lain untuk mencapainya.

  2. Penuh Damai (berdamai dengan Tuhan dan sesama, dan diri sendiri). Hikmat menghasilkan kedamaian. Damai dan kesatuan memiliki arti yang sama persis dengan bahasa aslinya. Ketika seseorang memiliki hati yang menyatu, dia memiliki damai dalam dirinya. Jika hatinya bercabang, dia tercabik-cabik di atara kepentingan dan tidak memiliki damai. Perdebatan menjadi salah satu tanda kurangnya hikmat. Hikmat memiliki sifat damai alami. Salomo memiliki hikmat, dan hikmat menghasilkan damai di masa ia memerintah.

  3. Peramah (bersikap bijaksana dan manis). Orang yang ramah akan mendengarkan orang lain, dan mau melihat dari sudut pandang orang lain; dia tidak kaku. Sifat kaku adalah hasil dari pemikiran yang tertutup, dan inilah bukti dari kurangnya hikmat. “Inilah caranya, dan tidak ada jalan lain!” sikap seperti ini berlawanan dengan hikmat. Hikmat memiliki ruang gerak, dan menunjukkan kepada kita bagaimana memberi ruang bagi orang lain. Hikmat dapat membuat kita menerima pandangan orang lain.

  4. Penurut (bertolak belakang dengan keras kepala). Inilah jenis orang yang mudah diajak bekerja sama; seseorang yang “terampil dan paham kapan waktunya menurut”. Hikmat akan memberitahu kapan waktu terbaik untuk bersikap tegas, dan kapan waktunya membiarkan sesuatu terjadi. Jika seseorang memaksa dan menekan agar idenya diterima, dia tidak bijaksana. Hikmat tidak menimbulkan pertengkaran dan perang mulut. (Lihat 2 Tim. 2:24-26, Amsal 25:15) “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar.” Belas kasihan menjangkau orang yang jatuh dan berusaha memulihkan sebaik mungkin, dan tidak mengutuk. Belas kasihan sejati “penuh dengan buah yang baik” dan melakukan perbuatan praktis yang baik. Ketika Tuhan menggambarkan Diri-Nya kepada Musa, hal pertama yang Ia katakan adalah; Tuhan penuh Belas Kasihan (Keluaran 34:6 ~ Terjemahan Bebas). Tuhan ingin kita mengenal-Nya sebagai pribadi yang demikian. Kita dipanggila juga untuk menjadi seperti Dia.

  5. Penuh Belas Kasihan (dan subur akan buah perbuatan baik). Belas kasihan ilahi jauh lebih tinggi dari belas kasihan manusia. Belas kasihan ilahi menunjukkan pertolongan bagi orang yang sedang kesulitan, walaupun karena salahnya sendiri. Inilah belas kasihan yang Tuhan tunjukkan kepada kita, dan Dia mengharapkan kita melakukan hal yang sama kepada orang lain. (“Orang yang berbelas kasihan akan mendapat belas kasihan”). Inilah belas kasihan yang perlu kita tunjukkan kepada orang yang telah “jatuh ke lubang sendiri”, walaupun mereka sudah diperingati berulang kali… Orang yang berbelas kasihan tidak akan bersikap, “Saya bilang juga apa…” Janganlah mengungkit-ungkit kesalahan dan kegagalan masa lalu dari pasangan anda atau orang lain.

  6. Kej. 25:28) Ribkah mengajarkan anak emasnya untuk berbohong dan penipu. Sikap tidak adil menimbulkan penipuan dan hal serupa. Inilah contoh keluarga yang tidak berjalan dengan baik, walaupun Tuhanlah yang meneguhkannya. Walaupun sebuah rumah tangga dimulai di dalam Tuhan, tetap saja tidak berjalan mulus jika anggota keluarga tidak mengizinkan Tuhan berurusan dengan area-area hati mereka. Sikap memihak adalah wujud kasih kedagingan dan menghasilkan buah yang jahat.Tidak Memihak (tidak berat sebelah). Emosi kita sangat berat sebelah tetapi tidak demikian halnya dengan hikmat. Isak dan Ribkah bersikap berat sebelah di dalam rumah tangga mereka. Isak mengasihi Esau, tetapi Ribkah mengasihi Yakub, dan sikap ini menghancurkan rumah tangga mereka.

  7. Tidak Munafik (tidak pura-pura atau bermuka dua dengan alasan apapun). Yesus berkotbah lebih banyak tentang sifat munafik daripada tentang masalah hati lainnya. (Matius 7:1-5). Menurut perkataan Yesus, sifat munafik terjadi ketika seseorang mengkritik orang lain begitu pedasnya, tetapi masalah yang mereka tuding ternyata ada di dalam diri mereka, bahkan lebih buruk. Karena itu, sifat munafik adalah kebutaan. Orang yang memiliki hikmat sejati akan memiliki terang di dalam diri mereka dan tidak bersikap mengkritik pedas orang lain, karena mereka tahu siapa diri setiap orang, dan kecenderungan hati mereka sendiri. Karena itu mereka bersikap lembut kepada orang lain.

Amsal 9:1 “Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya.” Di atas adalah tujuh tiang hikmat. Sebuah rumah dan pernikahan perlu dibangun di atas tujuh hal hikmat ini. Jika ada salah satu tiang yang hilang, pondasi menjadi rapuh. Mulailah membangun rumah dan pernikahan anda di atas 7 tiang hikmat. Hikmatlah yang membangun sebuah rumah!

Penulis

Dr. Paul G. Caram Ph.D. adalah seorang gembala, penulis buku rohani, dan pengajar internasional berfokus pada pertumbuhan Kekristenan. Kebenaran-kebenaran yang berkuasa namun sederhana sarat di dalam buku-buku dan seminar yang diadakannya, sehingga jemaat Tuhan dapat memahami kebenaran yang baru dan arahan yang segar dalam menjalani hidup. Rahasia-rahasia tak ternilai ditata dengan baik untuk menolong orang percaya memperoleh pembebasan dari ikatan dan pergumulan pribadi, dan juga menolong mereka menguak kebenaran dari Firman yang hidup.

Comments

Arsip :2011
Pembayaran
MANDIRI - 156 00 1135 6575  A/n Suara Harapan
Online Support
Admin
Sekretariat

Yayasan Voice Of Hope
Wisma Indovision Lt. 15,
Jl. Raya Panjang Blok Z/III,
Green Garden, Jakarta Barat

  •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2011-2014 Yayasan Voice Of Hope. All rights reserved.
Facebook Twitter RSS